Alquran Artikel Inspirasi Islam Pendidikan
Home » Berita » Sains dan Islam bagaikan saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan : Maurice Bucaille

Sains dan Islam bagaikan saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan : Maurice Bucaille

Ini adalah salah satu kisah paling fenomenal di abad ke-20 mengenai pertemuan antara sains modern dan arkeologi dengan Al-Qur’an.

Dokter Perancis yang dimaksud adalah Prof. Dr. Maurice Bucaille (1920–1998), seorang ahli bedah kenamaan dan ketua Klinik Bedah di Universitas Paris.

Berikut adalah kronologi detail peristiwa yang mengguncang logika sang profesor:

1. Kedatangan Mumi ke Perancis (1974)

Pada pertengahan tahun 1970-an, pemerintah Mesir di bawah Presiden Anwar Sadat setuju untuk mengirim mumi Ramses II (yang diyakini kuat sebagai Firaun zaman Nabi Musa) ke Paris. Tujuannya adalah untuk perawatan konservasi karena mumi tersebut mulai rusak akibat jamur, sekaligus untuk diteliti secara medis.

Mumi tersebut disambut dengan upacara kenegaraan layaknya seorang raja yang masih hidup. Maurice Bucaille ditunjuk sebagai ketua tim medis untuk meneliti jasad tersebut.

Gagas Program Diniyah, RUHAMA Studi Tiru Ke Diniyah Unggul Lamnga

2. Penemuan Medis yang Mengejutkan

Saat meneliti mumi tersebut di bawah mikroskop dan melalui proses forensik, Bucaille menemukan fakta-fakta yang ganjil untuk sebuah jasad yang dimumikan secara standar:

  • Sisa Garam Laut: Bucaille menemukan kandungan garam yang sangat tinggi pada tubuh mumi tersebut. Ini adalah indikasi kuat bahwa orang ini mati tenggelam di laut, kemudian jasadnya segera diangkat dan dibalsem.
  • Kondisi Tulang: Ada bekas-bekas retakan pada tulang (akibat hantaman gelombang air yang keras) namun dagingnya tetap utuh terjaga.
  • Posisi Tangan: Beberapa sumber menyebutkan tangan mumi tersebut dalam posisi yang kaku seolah sedang memegang tameng atau menahan sesuatu, yang menunjukkan rigor mortis (kaku mayat) terjadi saat ia dalam kondisi tegang/perang.

Kesimpulan Medis Bucaille: Raja ini mati tenggelam di laut, jasadnya diambil segera setelah mati, lalu dimumikan dengan tergesa-gesa agar tidak busuk.

3. Momen “Syok” Intelektual

Bucaille merasa bangga dengan penemuannya. Ia merasa menjadi orang pertama yang membuktikan secara forensik bahwa Firaun ini mati tenggelam.

Namun, seorang rekannya membisikkan sesuatu yang meruntuhkan kebanggaannya:

“Jangan terburu-buru, Profesor. Orang Islam sudah tahu hal ini dari kitab suci mereka sejak 1400 tahun lalu.”

Mahasiswi Keperawatan USK Gelar Cek Kesehatan Gratis, Keuchik Tanjong Seulamat Imbau Warga

Bucaille membantah keras.

“Tidak mungkin. Kita baru bisa mengetahui ini berkat peralatan canggih abad ke-20. Bagaimana mungkin kitab kuno tahu soal garam di dalam tubuh mumi yang baru ditemukan di akhir abad ke-19?”

Bucaille tahu bahwa dalam Perjanjian Lama (Taurat/Injil), dikisahkan Firaun tenggelam mengejar Musa. Tapi, tidak ada satu ayat pun yang menyebutkan bahwa jasadnya akan diselamatkan dan bisa dilihat orang di masa depan. Logikanya, mayat yang tenggelam di laut akan hancur dimakan ikan atau hilang selamanya.

4. Ayat yang Mengubah Segalanya

Penasaran, Bucaille meminta dibacakan ayat Al-Qur’an yang dimaksud. Ayat itu adalah Surah Yunus ayat 92:

“Maka pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu…” (QS. Yunus: 92).

Jangan Asal Beli Charger Laptop Murah ; Bahaya

Bucaille terhenyak (syok berat). Ia merenungkan logika yang tak terbantahkan:

  1. Waktu: Al-Qur’an turun di abad ke-7 Masehi.
  2. Fakta Sejarah: Mumi-mumi Firaun baru ditemukan di Lembah Para Raja (Valley of the Kings) pada abad ke-19 (ribuan tahun mumi itu terkubur dan tak ada yang tahu nasib jasadnya).
  3. Kesimpulan: Tidak mungkin Muhammad SAW (yang hidup di gurun pasir abad ke-7) tahu bahwa jasad Firaun akan “diselamatkan” dan “menjadi pelajaran” (ditemukan utuh), kecuali Dia mendapat info dari Tuhan yang menyelamatkan jasad itu.

5. Hasil Akhir: Buku yang Mengguncang Dunia

Peristiwa ini mengubah hidup Bucaille. Ia menghabiskan 10 tahun berikutnya untuk mempelajari Bahasa Arab dan membandingkan fakta sains dengan Al-Qur’an.

Hasilnya adalah mahakarya berjudul: “La Bible, le Coran et la Science” (The Bible, The Qur’an and Science) yang terbit tahun 1976.

Dalam buku itu, ia tidak hanya membahas Firaun, tapi juga embriologi, astronomi, dan geologi. Kesimpulannya tegas: Sains modern mengoreksi banyak kesalahan dalam kitab-kitab terdahulu, tetapi justru mengonfirmasi kebenaran Al-Qur’an.

Meskipun ada perdebatan mengenai apakah Maurice Bucaille secara formal bersyahadat di depan publik atau menjadi “Muslim tersembunyi”, ia dikenal sangat membela Islam di forum-forum ilmiah Barat. Ucapan terkenalnya adalah:

“Sains dan Islam bagaikan saudara kembar yang tidak bisa dipisahkan.”