Opini
Home » Berita » Mens Rea VS MENS REA, By : Andrian

Mens Rea VS MENS REA, By : Andrian

Mens Rea VS MENS REA

Sepekan terakhir, lini masa kita gaduh. Perdebatan mengenai Mens Rea milik Pandji Pragiwaksono bukan lagi soal apakah bit komedinya lucu atau tidak. Pro dan kontra meledak, namun yang paling menyesakkan dada bukanlah argumen yang saling silang, melainkan kemunculan para buzzer yang kualitas logistiknya lebih tinggi daripada kualitas logikanya. Ironi memang, kita membayar pajak, lalu pajak itu digunakan untuk membiayai orang-orang yang tugasnya mencekal selera humor.

Narasi yang dilemparkan ke panggung adalah Pandji “merusak citra pemerintahan.” Wait a minute… sejak kapan sebuah citra bisa hancur hanya karena beberapa bait kritik? Jika sebuah bangunan retak karena seseorang berteriak di depannya, mungkin masalahnya bukan pada suaranya, melainkan pada konstruksi bangunannya yang memang sudah keropos. Alih-alih melakukan internal evaluation, para pengambil keputusan justru seringkali melakukan blunder dengan pernyataan yang anti-kritik. Jika komedi dituduh melakukan pembodohan massal, lantas apa kabar dengan janji-janji manis yang menguap setelah pelantikan?

“Komedi Seharusnya Mencerdaskan” katanya.

Kalimat ini sungguh mengundang tawa yang satir. Jika tugas komedi adalah mencerdaskan, lantas tugas pemerintah apa? Ngelucu? Kita berada di kondisi kehidupan yang semakin sulit, di mana komedi adalah the last sanctuary, perlindungan terakhir bagi kewarasan masyarakat. Jangan rampas hiburan rakyat jelata dengan dalil etika jika etika berkuasa saja masih menjadi tanda tanya besar.

Anomali di Terminal 404 – Kisah Arthur dan Ilmuan masuk islam

Dalam democracy, kritik bukan soal like or dislike, tapi soal accountability. Para pemangku jabatan digaji dari keringat pembayar pajak. Wajar jika mereka menjadi sasaran satire. Semakin besar kuasa, semakin besar pula kewajiban untuk berlapang dada menerima kritik. Kekuasaan tanpa keberanian dikritik bukanlah wibawa, itu adalah privilege yang narsistik.

Kritik juga datang menyerang personal Pandji terkait dukungannya pada Anies Baswedan di masa lalu. Ada yang bilang Pandji tidak berani meledek “kekonyolan” pilihannya sendiri namun sanggup menyentuh fisik (body shaming) penguasa aktif.

Namun, mari kita jernihkan pikiran sebentar, menyamakan ledekan pada penguasa aktif dengan warga tanpa jabatan sepertinya ga pas juga. Jabatan publik membawa tanggung jawab publik. Pandji mungkin punya preferensi politik, tapi penonton tertawa bukan karena mereka adalah fanboy Pandji, dan penonton pun tertawa bukan karena mereka haus akan penghinaan, tapi karena materi itu sangat relate. Jika omongan Pandji 100% fitnah atau hoax tanpa dasar, penonton tidak akan tertawa, mereka akan bingung. Penonton tertawa karena mereka melihat realitas yang mereka alami sehari-hari dibawa ke atas panggung.

Banyak juga yang menyerang Pandji karena mendapatkan keuntungan (dari Netflix) dengan menyebut nama “Penguasa”. Lagi lagi mari kita bandingkan secara apple to apple: Mana yang lebih menjijikkan?

Seseorang yang mencari nafkah dengan mengkritik kebijakan secara terbuka, atau mereka yang mencari makan dengan menjadi professional bootlickers (penjilat)?

Keunggulan Gemini dibandingkan model AI lainnya

Kritik adalah fuel bagi demokrasi untuk terus bergerak. Tanpa itu, kita hanya akan berjalan di tempat sambil saling memuji di tengah reruntuhan. Jika kerja sudah kacau, jangan berharap dapat standing ovation. Itu namanya delusi, bukan prestasi.

Tantangan untuk para “Penjilat” dan saya akan mengutip perkataan Panji “Menurut keyakinan saya” : bagi para pembela kekuasaan yang merasa Pandji terlalu kasar daripada sibuk melakukan mass bullying di media sosial, kenapa tidak dijawab dengan karya serupa?

Mari buat Stand-up Comedy tandingan. Let’s see, apakah tiket mahalnya bisa sold out?

Apakah ledakan tawa dari penontonnya bisa mengguncang satu negara seheboh tsunami fakta yang dibawa Pandji?? Atau justru panggungnya akan terasa kaku karena terlalu banyak “bumbu” puja-puji?

Banyak yang bilang Special Show Pandji kali ini tidak lucu. And I might agree. Mengapa? Bukan ..bukan karena Pandji kehilangan kemampuannya, melainkan karena kita hanya tertawa 10% dan sisanya terdiam, terpaku menghayati hantaman tsunami fakta.

Strategi Produksi Berita Menggunakan AI di Tahun 2026

Komedi Pandji adalah sebuah wake-up call. Kita tidak bisa terus-menerus berharap pada sistem yang sedang sakit. Kita hanya bisa berharap pada diri sendiri.

Negara ini sedang berada dalam kondisi yang membuat kita bertanya, kita mau berharap pada siapa?

Dan sekali lagi pada punchline acara tersebut…

Polisi kita membunuh,

Tentara kita berpolitik,

Presiden kita memaafkan koruptor,

dan Wakil Presiden kita…

**𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘢𝘬𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶𝘯 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘧𝘰𝘭𝘭𝘰𝘸𝘦𝘳𝘴 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘱𝘶𝘭𝘶𝘩𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘣𝘶, 𝘳𝘢𝘵𝘶𝘴𝘢𝘯 𝘳𝘪𝘣𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘶𝘵𝘢𝘢𝘯.𝘛𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨𝘭𝘢𝘩 𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘳𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱 𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘬𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘒𝘳𝘦𝘢𝘵𝘪𝘧𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘤𝘰𝘯𝘵𝘦𝘯 𝘤𝘳𝘦𝘢𝘵𝘰𝘳, 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘤𝘰𝘱𝘢𝘴 𝘢𝘫𝘢.

Andrian

6 Januari 2026

17 Rajab 1447 H

#MensRea#Panji#PandjiPragiwaksono