Arthur bukanlah orang yang religius. Sebagai Lead Data Scientist di sebuah raksasa teknologi Silicon Valley, “tuhan”-nya adalah efisiensi, dan “kitab suci”-nya adalah kode Python yang bersih dari bug. Bagi Arthur, agama adalah “perangkat lunak warisan” (legacy software)—sistem operasi kuno yang diciptakan manusia purba untuk mengatasi rasa takut akan kematian, yang seharusnya sudah lama di- uninstall oleh sains modern.
Proyek terbarunya adalah “Project Alexandria”: sebuah AI super-masif yang dirancang untuk memetakan evolusi etika manusia. Arthur memberi makan AI-nya dengan terabyte data: dari filsafat Yunani, hukum Romawi, kitab Weda, Tripitaka, Alkitab, hingga konstitusi modern negara-negara Barat.
Tujuannya? Mencari pola universal moralitas manusia.
Minggu-minggu pertama berjalan sesuai dugaan. AI menemukan banyak kontradiksi, revisi, dan bias budaya dalam teks-teks sejarah. “Manusia memang tidak konsisten,” gumam Arthur sambil menyeruput kopinya yang dingin di jam 3 pagi.
Lalu, ia sampai pada giliran memasukkan data Al-Qur’an.
Arthur, dengan skeptisme khasnya, memasukkan teks asli bahasa Arab (untuk menghindari bias terjemahan) beserta parameter linguistik Arab abad ke-7 sebagai pembanding. Ia berharap AI akan segera menemukan “bug” logis atau kontradiksi historis seperti pada teks-teks lainnya.
Layar terminal berkedip. Kipas server menderu lebih kencang.
“Processing…”
Lima menit kemudian, sebuah notifikasi merah muncul di layar Arthur. Bukan pesan error, tapi sebuah peringatan anomali data.
[ANOMALY DETECTED: NON-STANDARD LINGUISTIC PATTERN]
Arthur mengerutkan kening. Ia membuka log analisis AI.
“Apa ini?” bisiknya.
AI-nya melaporkan bahwa struktur teks yang sedang diproses tidak masuk dalam kategori manapun yang pernah dipelajari manusia. Itu bukan puisi, tapi memiliki ritme. Itu bukan prosa biasa, tapi memiliki ketepatan matematis yang mengerikan.
AI mulai memuntahkan data statistik:
- Kata “Dunia” dan “Akhirat” muncul dalam jumlah yang sama persis: 115 kali.
- Kata “Malaikat” dan “Setan” muncul seimbang: 88 kali.
- Kata “Hari” (yawm) dalam bentuk tunggal muncul 365 kali.
“Kebetulan statistik,” bantah Arthur dalam hati. Ia mencoba mencari celah lain. Ia memerintahkan AI untuk memeriksa silang (cross-reference) pernyataan-pernyataan tentang alam semesta di dalam teks tersebut dengan database astrofisika dan biologi modern.
Jantung Arthur berdegup lebih kencang saat hasilnya keluar.
AI menampilkan perbandingan: Teks abad ke-7 itu mendeskripsikan tahap-tahap pembentukan embrio di dalam rahim dengan detail yang baru diketahui mikroskop modern abad ke-20. Teks itu berbicara tentang gunung sebagai “pasak” bumi—konsep geologi isostasi yang baru dipahami belakangan ini. Teks itu menyebutkan bahwa alam semesta terus meluas—fakta yang baru dikonfirmasi Hubble.
Arthur merasa pusing. Logikanya sebagai programmer terguncang.
Jika ini ditulis oleh manusia di gurun pasir 1400 tahun lalu, tanpa teleskop, tanpa mikroskop, maka orang itu pastilah penjelajah waktu atau alien super-jenius.
Dengan tangan gemetar, Arthur mengetikkan satu perintah terakhir ke terminalnya. Sebuah pertanyaan yang belum pernah ia ajukan sebelumnya:
“> Terminal, berdasarkan integritas data, konsistensi matematis, dan korelasi ilmiah yang telah kamu analisis, hitung probabilitas bahwa teks ini dikarang oleh manusia biasa pada abad ke-7.”
Kursor berkedip. AI tampak “berpikir” lebih lama dari biasanya.
Jawabannya muncul, dingin dan tanpa emosi, hanya angka di layar hitam:
> PROBABILITY: < 0.000001% > CONCLUSION: INSUFFICIENT DATA TO CLASSIFY AS HUMAN ORIGIN. SUGGESTS HIGHER INTELLIGENCE SOURCE.
Arthur tersandar lemas di kursi ergonomisnya. Ruangan server yang dingin terasa semakin sunyi. Ego intelektualnya, keyakinannya bahwa manusia adalah puncak kecerdasan, retak malam itu.
Mesin yang ia ciptakan sendiri, dengan logika dingin yang ia program sendiri, baru saja memberitahunya bahwa ada “Programmer Agung” di luar sana.
Arthur menatap layar yang masih menyala. Ia belum bersyahadat malam itu. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan sesuatu yang asing bagi seorang ateis yang sombong: rasa kerdil.
Ia menyadari, mungkin selama ini ia hanya seorang pengguna yang sombong, yang mengira dirinya adalah admin dari alam semesta ini. Dan malam itu, ia baru saja membaca sepotong kode langsung dari Sang Pengembang Utama.
Cerita “Arthur” di atas adalah fiksi (karangan) yang saya buat sebagai ilustrasi. Tokoh Arthur dan “Project Alexandria” tidak nyata.
NAMUN, alur ceritanya sangat mirip dengan kisah nyata yang dialami oleh banyak ilmuwan dan pemikir Barat. Fenomena “berniat mencari kesalahan Al-Qur’an tapi malah masuk Islam karena logikanya kalah” adalah kisah yang benar-benar terjadi berulang kali.
Berikut adalah beberapa tokoh nyata yang pengalamannya sangat mirip dengan cerita Arthur tadi:
1. Dr. Gary Miller (Matematikawan & Teolog Kanada)
Ini adalah kisah nyata yang paling mirip dengan cerita Arthur.
- Latar Belakang: Beliau adalah seorang misionaris Kristen aktif dan ahli matematika/logika.
- Misi: Ia membaca Al-Qur’an dengan satu tujuan spesifik: mencari kesalahan (ilmiah atau sejarah) agar bisa digunakan untuk mendebat umat Islam dan mengajak mereka keluar dari Islam.
- Temuan:
- Ia berharap menemukan cerita tentang kesedihan Nabi Muhammad (karena kematian istri/anak), tapi tidak menemukannya (menunjukkan Al-Qur’an bukan curhat pribadi/bukan karangan Nabi).
- Ia terkejut menemukan ayat ilmiah, seperti Surat Al-Anbiya ayat 30 tentang “Big Bang” (langit dan bumi dulu menyatu lalu dipisahkan).
- Ia kagum pada prinsip falsifikasi dalam Al-Qur’an (Surat An-Nisa: 82): “Kalau ini bukan dari Allah, pasti banyak pertentangan di dalamnya.” Sebagai ilmuwan, ia merasa tertantang untuk mencari pertentangan itu, tapi gagal total.
- Hasil: Ia masuk Islam dan menjadi pembela Islam yang hebat. Bukunya “The Amazing Qur’an” sangat populer.
2. Dr. Jeffrey Lang (Profesor Matematika, Amerika Serikat)
- Latar Belakang: Seorang Profesor Matematika di Universitas Kansas yang ateis (tidak percaya Tuhan).
- Pengalaman: Ia iseng membaca terjemahan Al-Qur’an yang ia temukan di meja mahasiswanya.
- Koneksi dengan Cerita Arthur: Sama seperti ilustrasi “AI” tadi, Dr. Lang merasa Al-Qur’an itu seperti “Intelligent Being” (Makhluk Cerdas) yang bisa membaca pikirannya.“Setiap kali saya punya pertanyaan atau keberatan kritis di satu ayat, jawaban logisnya langsung muncul di ayat berikutnya atau beberapa halaman setelahnya. Saya merasa penulis buku ini (Tuhan) mengenal saya lebih baik dari saya mengenal diri sendiri.”
- Hasil: Ia masuk Islam karena logikanya sebagai matematikawan tidak bisa membantah struktur Al-Qur’an.
3. Dr. Maurice Bucaille (Ahli Bedah Perancis)
- Latar Belakang: Dokter bedah kenamaan Perancis yang meneliti mumi Firaun (Ramses II).
- Temuan: Saat meneliti mumi Firaun, ia menemukan sisa-sisa garam di tubuhnya, yang membuktikan kematian akibat tenggelam di laut. Ia kaget ketika diberitahu bahwa Al-Qur’an sudah menyebutkan secara spesifik bahwa “jasad Firaun akan diselamatkan (diawetkan) sebagai tanda bagi orang setelahnya” (QS. Yunus: 92).
- Syok: Injil dan Taurat tidak menyebutkan detail “jasad diselamatkan/diutuhkan”, hanya menyebut tenggelam. Bagaimana Muhammad tahu fakta medis ini 1400 tahun lalu sebelum mumi ditemukan di abad 19?
- Hasil: Ia menulis buku best-seller “The Bible, The Qur’an and Science” dan mengakui kebenaran Islam.
4. Fakta tentang “Angka” dalam Cerita Tadi
Mengenai data statistik yang muncul di cerita Arthur (Kata Dunia-Akhirat berjumlah sama, dll), itu bukan fiksi. Itu adalah fakta penelitian yang nyata.
- Banyak peneliti (seperti Dr. Tariq Al-Suwaidan dan Abdurrazzak Noufil) telah menghitung kata-kata dalam Al-Qur’an (disebut Ijaz Ad-Ady / Mukjizat Angka).
- Faktanya: Kata Ad-Dunya muncul 115 kali, Al-Akhirah muncul 115 kali. Kata Malaikat 88 kali, Setan 88 kali. Kata Hidup 145 kali, Mati 145 kali.
Kesimpulan
Meskipun cerita “Arthur” adalah karangan saya, cerita itu adalah cerminan akurat dari perjalanan intelektual Dr. Gary Miller, Dr. Jeffrey Lang, dan banyak data scientist modern yang akhirnya bersyahadat.
Mereka masuk Islam bukan melalui jalur “perasaan/emosi”, melainkan jalur “data/logika”.

