AI Artikel Artikel AI Informasi Karir
Home » Berita » 2026 website informasi semakin ditinggalkan diganti dengan AI

2026 website informasi semakin ditinggalkan diganti dengan AI

Memasuki tahun 2026, industri media digital sedang menghadapi “badai sempurna” yang mengubah total cara orang mengonsumsi informasi. Era di mana sebuah website berita bisa hidup hanya dengan mengandalkan trafik dari Google atau Facebook sudah hampir berakhir.

Berikut adalah alasan utama mengapa website berita tradisional kini terasa tidak efektif dan sulit menghasilkan uang:

1. Munculnya “Zero-Click Search” & AI Overviews

Dulu, jika orang mencari berita di Google, mereka harus mengeklik link website Anda. Sekarang, dengan Google AI Mode atau Gemini, jawaban atau ringkasan berita langsung muncul di halaman pencarian.

  • Dampaknya: Orang merasa sudah cukup membaca ringkasan dari AI tersebut tanpa perlu mengunjungi website Anda (trafik turun drastis).
  • Media in AI: Kini tantangannya bukan lagi “bagaimana muncul di halaman satu Google,” tapi “bagaimana agar AI menyebutkan brand kita sebagai sumbernya.”

2. Pergeseran ke “News Consumption via Social”

Audiens, terutama Gen Z dan Milenial, tidak lagi membuka URL website berita secara langsung. Mereka mengonsumsi berita lewat:

  • Short-form Video: TikTok dan Instagram Reels menjadi sumber berita utama yang lebih cepat dan visual.
  • Influencer/Kreator: Orang lebih percaya pada individu (tokoh atau jurnalis independen) daripada brand media yang dianggap kaku atau memiliki agenda politik tertentu.

3. Fenomena “News Fatigue” (Kelelahan Berita)

Banyak orang sengaja menghindari website berita karena:

Mahasiswi Keperawatan USK Gelar Cek Kesehatan Gratis, Keuchik Tanjong Seulamat Imbau Warga

  • Clickbait: Judul yang menjebak demi trafik membuat pembaca merasa tertipu dan malas kembali.
  • Sensasionalisme: Berita yang terlalu negatif atau berulang-ulang menciptakan kecemasan, sehingga audiens memilih untuk memutus hubungan dengan berita arus utama.

4. Krisis Monetisasi Iklan (Programmatic Ads)

Model bisnis yang hanya mengandalkan iklan (seperti Google AdSense) semakin sulit karena:

  • Dominasi Raksasa Teknologi: Sebagian besar anggaran iklan lari ke Meta, Google, dan TikTok, bukan ke pemilik konten (publisher).
  • Ad-Blockers: Penggunaan pemblokir iklan semakin masif karena iklan di website berita sering dianggap mengganggu kenyamanan (pop-up, video auto-play).
  • Privasi Data: Peraturan privasi yang lebih ketat membuat penargetan iklan menjadi kurang akurat, sehingga nilai iklan (CPM) menurun.

5. Saturasi Konten & “AI Slop”

Saat ini, internet dibanjiri oleh artikel yang dibuat oleh AI hanya untuk mengejar SEO. Ini disebut sebagai “AI Slop”—konten yang terlihat rapi tapi tidak memiliki kedalaman atau emosi manusia. Akibatnya, website berita yang benar-benar melakukan liputan lapangan kalah bersaing dengan website “pabrik konten” yang memproduksi ribuan artikel murah per hari.


Bagaimana Media Bisa Bertahan?

Untuk tetap relevan di tahun 2026, media tidak bisa lagi menjadi sekadar “penyampai pesan,” tetapi harus menjadi pembangun komunitas. Beberapa strategi yang mulai berhasil meliputi:

  • Subscription Model: Fokus pada pembaca setia yang mau membayar untuk kualitas
  • Newsletter & Komunitas: Mengirimkan berita langsung ke email atau grup WhatsApp/Telegram agar tidak bergantung pada algoritma media sosial.
  • Authenticity: Menampilkan sisi manusiawi, proses riset yang mendalam, dan verifikasi fakta yang ketat untuk membedakan diri dari konten buatan AI.